www.indobioethanol.com
PELATIHAN MEMBUAT BIOETHANOL DARI SINGKONG (UBI KAYU)
TERBUKA UNTUK UMUM,JADWAL SETIAP HARI SABTU/MINGGU

Alamat : Jln.Merpati,Blok F No:1,Curug Indah,Semplak - Bogor Kota
CP Hp : 085694770062/087770173838

Home | Distillator | News | Pelatihan | Mesin Pemurnian Bioethanol |

BERITA TERBARU

 

 

Menteri Pertanian Meninjau Pabrik Etanol di Sukabumi

22/09/2011 [01:27:15]

Menteri Pertanian Anton Apriyantono bersama rombongan meninjau secara langsung pabrik pengolahan etanol berbahan baku singkong atau ubi kayu di Desa Jampangkulon, Sukabumi Jawa Barat, sekaligus meninjau sentra produksi singkong di wilayah tersebut. Menteri Pertanian didampingi Bupati Sukabuni E. Sukmawijaya dan Kepala Dinas Pertanian Sukabumi Dana Budiman. Program pengembangan pabrik etanol di Sukabumi ini merupakan bagian dari program yang dikembangkan Pemerintah Daerah Sukabumi, yang tergabung dalam PESAT (Pelayanan Sarana Agribisnis Terpadu) antara padi dan ubikayu, dan rencananya Pemda setempat akan melanjutkannya PESAT ini untuk ternak. Kabupaten Sukabumi merupakan produsen singkong yang cukup besar di Jawa Barat, di samping Cianjur, Purwakarta, Sumedang dan Subang. Dan Jawa Barat menjadi produsen ubi kayu terbesar di tanah air, sehingga pengembangan enerji alternatif etanol berbahan baku singkong ini diharapkan menjadi produsen etanol berbahan singkong terbesar di Indonesia. Guna menunjang kebutuhan bahan baku etanol ini, Pemda Sukabumi mulai menggalakkan penanaman singkong varietas unggul seperti Varietas Darul Hidayah karena varietas ini punya potensi produksi yang cukup besar bahkan bisa sampai 4 kali lipat produksinya dari varietas yang ditanam selama ini. Rencananya tanaman singkong yang mudah perawatannya ini akan ditanam di lahan-lahan tidur yang selama ini belum dioptimalkan pemanfaatannya. Pengembangan enerji alternatif etanol ini di Jawa Barat sebagai upaya pengembangan energi alternatif guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak, apalagi energi dari etanol ini punya banyak kelebihan dibandingkan bahan bakar minyak (BBM). Energi etanol dari singkong ini juga ramah lingkungan dan sangat aman untuk digunakan di rumah-rumah warga, misalnya, untuk menggoreng dan memasak masakan lainnya dengan memakai kompor berbahan bakar enerji etanol. Pemda Jawa Barat terus mendukung pengembangan enerji alternatif termasuk dari etanol dan pendirian pabrik etanol di Sukabumi ini untuk pertamakalinya di Jawa Barat, mengingat wilayah ini merupakan salah satu lumbung singkong di Indonesia. Namun target jumlah etanol yang dihasilkan khususnya di wilayah Sukabumi masih belum ditetapkan, dan pihak Pemkab termasuk dinas terkait rencananya akan melakukan pengembangan tanaman singkong ke lahan-lahan kosong. (Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 0815 8441 4991)


Medco kekurangan bahan baku singkong

22/09/2011 [00:31:25]

Tuesday, 24 May 2011 18:39 WASPADA ONLINE JAKARTA - Presiden Direktur PT Medco Downstream Indonesia, Bambang W Sugondo, menyatakan saat ini produksi bio etanol PT Medco Energi Internasional Tbk di Lampung kekurangan bahan baku singkong. Sehingga, produksi pabrik bio etanol Medco belum optimal. "Produksi bio etanol Medco hanya sebesar 126.000 kiloliter per hari. Padahal kapasitas pabrik sebesar 180.000 kiloliter per hari. Produksi kita masih 70 persen, karena kita agak susah mendapatkan singkong akhir-akhir ini," ujar Bambang, sore ini. Walaupun kesulitan mendapatkan bahan baku, Hingga akhir tahun, Medco berencana untuk mengerek produksi hingga 100 persen sesuai dengan kapasitas produksi. Hasil produksi pabrik bio etanol tersebut akan dijual untuk domestik dan ekspor. Dikatakan, untuk porsinya, sebesar 50 persen dijual ke domestik dan sisanya sebesar 50 persen dijual untuk ekspor. "Ekspornya macam-macam. Ada yang ke China dan Korea," unkapnya. Medco berencana untuk melakukan ekspansi dengan membangun pabrik bio etanol baru di Lampung pada akhir 2014 atau awal 2015. Kapasitasnya mencapai 180.000 kiloliter. Tak cuma memperluas pabrik di Lampung, Medco juga bakal membangun pabrik bio etanol di Merauke, Papua. Pabrik di Papua ditargetkan bisa berproduksi sebanyak 180.000 KL bio etanol. Saat ini prosesnya masih dalam tahap pembebasan lahan tebu dan riset produksi tebu. "Kita belum punya angka investasi, tapi jika mengacu pabrik etanol standar mungkin bayangan saya untuk pabrik saja maksimum sekitar US$150 juta, di luar tanah," katanya. Sementara itu, Asosiasi Produsen Biofuel (Aprobi) mencatat produksi bahan bakar nabati nasional pada kuartal pertama 2011 mencapai 300.000 kiloliter. "Sampai kuartal pertama tahun totalnya mungkin lebih dari 300.000 kiloliter," kata Sekjen Aprobi, Paulus Cakrawan. Angka ini masih jauh dari target yang dipatok pemerintah. Dalam hitungan pemerintah, produksi bahan bakar nabati (BBN) tahun ini mencapai sekitar 800 ribu KL. Rinciannya, biodiesel 590 ribu KL, dan 200 ribu KL. “Kalau ditambah dengan ekspor, total produksi tahun ini harusnya 1 juta KL lebih,” jelasnya. Paulus mengatakan, pengembangan BBN memang sulit diterapkan menyeluruh secara langsung. Pasalnya, pengembangan pemakaian BBN masih terkendala masalah distribusi dan kebijakan harga.


Heryawan Dorong Industri Bioetanol dari Singkong

21/09/2011 [02:35:39]

Oleh: Dery Fitriadi Ginanjar Jabar - Selasa, 11 Januari 2011 | 21:15 WIB INILAH.COM, Bandung – Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mendorong pembangunan industri energi alternatif seperti bioethanol yang berbahan baku singkong. Keberadaan industri tersebut mampu memberdayakan ekonomi masyarakat, khususnya para petani singkong yang berperan sebagai pemasok bahan baku. “Keberadaan pabrik pengolahan bioetanol mampu menjadi akselerator bagi perkembangan ekonomi masyarakat sekitar, serta bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat keseluruhan,” kata Heryawan saat meresmikan Pabrik Pengolahan Bioethanol Bahan Baku Singkong di Kampung Nangewer Desa Cijambe Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut, Selasa (11/1/2011). Menurut Heryawan, pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi membuat konsumsi minyak bumi meningkat tajam. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) memprediksi kebutuhan minyak dunia meningkat sekitar 1 juta barel per hari (BPH) setiap tahun dan menyentuh 105,5 juta BPH pada 2030. “Tentunya harus diantisipasi sejak dini menyiapkan bahan energi alternatif terbarukan, seperti bioethanol,” katanya. Sumberdaya alam yang dimiliki Jabar cukup melimpah, seperti potensi energi perairan, energi surya, panas bumi, hingga biomass sehingga harus benar-benar dioptimalkan pemanfaatannya. “Upaya kita dalam menemukan sumber energi terbarukan dapat terwujud yang ditandai dengan hadirnya pabrik pengolahan Bioethanol bahan baku singkong,” tuturnya. [jul]


 








Copyright (c) 2010 http://www.indobioethanol.com

Powered by klikabadi.com